Rationality is the exercise of reason.[In philosophy]

Reason is a term that refers to the capacity human beings have to make sense of things, to establish and verify facts, and to change or justify practices, institutions, and beliefs.[1] It is closely associated with such characteristically human activities as philosophy, science, language, mathematics, and art, and is normally considered to be a definitive characteristic of human nature.[2] The concept of reason is sometimes referred to as rationality and sometimes as discursive reason, in opposition to intuitive reason.[3]

Reason or “reasoning” is associated with thinking, cognition, and intellect. Reason, like habit or intuition, is one of the ways by which thinking comes from one idea to a related idea. For example, it is the means by which rational beings understand themselves to think about cause and effect, truth and falsehood, and what is good or bad.

In contrast to reason as an abstract noun, a reason is a consideration which explains or justifies some event, phenomenon or behaviour.[4] The ways in which human beings reason through argument are the subject of inquiries in the field of logic.

Reason is closely identified with the ability to self-consciously change beliefs, attitudes, traditions, and institutions, and therefore with the capacity for freedom and self-determination.[5]

Psychologists and cognitive scientists have attempted to study and explain how people reason, e.g. which cognitive and neural processes are engaged, and how cultural factors affect the inferences that people draw. The field of automated reasoning studies how reasoning may or may not be modeled computationally. Animal psychology considers the controversial question of whether animals can reason.

http://en.wikipedia.org/wiki/Reason

“Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”

“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan karena dien (agama)-nya. Maka pilihlah yang memiliki dien (Agama) maka engkau akan beruntung.” [HR. Bukhori dan Muslim

Pilihan tentang Harta, kedudukan, kecantikan dan agama, adalah pilihan yang rasional yang mengandung konsekuensi masing-masing.

Tiada ada alasan dalam pilihan itu karena cinta, benci, sedih dan laen nya karena itu tidak rasional, itu emosional...
artinya, karena pada hakekatnya kalau sudah mencintai maka sudah didahului memilih karena pilihan rasional itu.
"Emosional karena sudah didahului Rasional...
dari mata, masuk akal, terus turun ke hati...Data itu dilihat oleh Mata, Mata yang menandang akan Realitas itu sebagai Infromasi, terus informasi itu masuk ke Akal dan terima Logika Akal, maka menjadi Pengetahuan...dan Pengetahuan itu turun ke Hati menjadi sesuatu yang nyaman dan enak di Hati..."

[simulasi]
Kenapa orang membenci seseorang ?
karena awalnya [1] pikiran sudah menangkap alasan rasional tindakan seseorang yang tidak sesuai dengan akal logika nya yang sesuai kaidah kebenaran…
setelah Ini kemungkinan bisa berakhir pada rasa kebencian atau easy going”masa bodohlah, itu bukan urusan ku, elo siapa gue..dan emang gue pikirin”.

[2] Rasa benci itu muncul karena ada rasa emosi memiliki, ingin seseorang itu mempunyai tindakan sesuai akal logika kita…sehingga timbulah rasa untuk tidak mau melepas atau membiarkan keburukan itu. Benci adalah bukti rasa menginginkan kebaikan.

[3] Jika kondisi membaik, maka rasa benci itu berubah perlahan-lahan menjadi rasa prasangka baik…

untuk yang masih kuliah, ini ada [QUIS]…

Kenapa seseorang mencintai seseorang ? disimulasikan aja… :p

Published in: on April 25, 2012 at 2:00 am  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.